ANALISIS FAKTOR KEJADIAN ANEMIA DEFISIENSI ZAT BESI PADA ANAK PUTRI

  • herlyssa Azwar Poltekkes Kemenkes Jakarta III
Keywords: Iron deficiency Anemia, Iron intake, Daughters

Abstract

Iron deficiency anemia not only occurs in pregnant women and adolescent girls but can also occur in girls. Children are said to have iron deficiency anemia if their hemoglobin (Hb) level is <11.5 g/dL. The World Health Organization in the Worldwide Prevalence of Anemia reported that the prevalence of anemia in elementary school children at the global level is 25.4%. In Indonesia, the prevalence of anemia in children aged 5-12 years reaches 29% and 37% of them occur in girls. The purpose of this study was to determine the factors associated with the incidence of iron deficiency anemia in girls at SDN Rawamangun 01, East Jakarta. This study design was cross-sectional. The sampling technique used proportional sampling with a sample size of 102 respondents from all girls at SDN Rawamangun 01. Data analysis used chi-square data analysis. The results showed that there was a relationship between maternal education, knowledge about anemia, diet, and nutritional status with the incidence of iron deficiency anemia in girls. The importance of consuming iron supplements from childhood to prevent anemia in adulthood.

References

1.Ahdiah, A., F., F. H., & Istiana. (n.d.). Hubungan pengetahuan dengan kejadian anemia pada remaja putri di SMA PGRI 4 Banjarmasin, 9–14.
2.Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. (2018). Riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2018. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
3.Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. (2022). Survei demografi dan kesehatan Indonesia (SDKI) 2022. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
4.Flora, R. (n.d.). The relationship between iron intake and anemia in elementary school children in the working area of the Air Beliti Public Health Center, Musi Rawas Regency.
5.Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Pedoman pencegahan dan penanggulangan anemia pada remaja putri dan wanita usia subur (WUS). Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat.
6.Listiana, A. (2016). Analisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia gizi besi pada remaja putri di SMKN 1 Terbanggi Besar Lampung Tengah, 455–469.
7.Martiani. (2016). Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada remaja putri di MAN 1 Metro, 8(1), 1–7.
8.Prasetiani, N. A., & Ludong, M. M. (2023). Prevalensi anemia defisiensi besi pada anak kurang gizi di Rumah Sakit Umum Daerah Koja tahun 2017–2019, 4.
9.Sartika, D. A., Majidah, L., & Lestari, S. (2021). Hubungan konsumsi makanan cepat saji dengan anemia defisiensi zat besi pada remaja usia 10–19 tahun.
10.Sirajuddin, S., & Masni, M. (2015). Kejadian anemia pada siswa sekolah dasar. Kesmas: National Public Health Journal, 9(3), 264.
11.Supriadi, D., Budiana, T. A., & Jantika, G. (2022). Kejadian anemia berdasarkan asupan energi, vitamin B6, vitamin B12, vitamin C dan keragaman makanan pada anak sekolah dasar di MI PUI Kota Cimahi. JIKBH, 13(1), 103–115.
12.Warda, Y., & Fayasari, A. (2021). Konsumsi pangan dan bioavailabilitas zat besi berhubungan dengan status anemia di Jakarta Timur, 4(2), 135–146.
13.World Health Organization. (2021). The global prevalence of anemia in 2021. WHO.
14.World Health Organization. (2021). Worldwide prevalence of anemia 1993–2005: WHO global database on anemia. WHO.
15.Yumni, D., & Dewi, R. (2021). Literatur review: Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian anemia pada anak usia sekolah, 14(1).
Published
2026-07-31
How to Cite
Azwar, herlyssa. (2026). ANALISIS FAKTOR KEJADIAN ANEMIA DEFISIENSI ZAT BESI PADA ANAK PUTRI. Jurnal Fisioterapi Dan Kesehatan Indonesia, 6(01), 67-73. Retrieved from https://www.physiohealthjournal.org/jfki/article/view/493